Kalau saja dari kecil aku kurang makan mungkin aku sudah mati... Kalau saja dari kecil aku banyak makan mungkin orang tuaku lebih miskin dari sekarang ini.. Allah menjaga semuanya seimbang.. Alhamdulillah...
‘IED UNTUK IBADAH DAN SYUKUR Bersama: Asy-Syaikh ‘Abdul Malik Al-Qosim Al-Hamdulillahi alladzi Bini’matihi tatimmush sholihaat, washolatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursaliina nabiyyinaa Muhammadin wa ‘alihi wa shohbihi ajma’iin. Waba’du: Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu berakhir…..Kemarin kita bersama Ramadhan yang kita cintai dan kini kita meninggalkannya. Beberapa hari lalu kita mengucapkan “Selamat datang bulan Ramadhan” dan kini hari-hari yang penuh barokah itu telah berlalu. Walaupun orang-orang disekitar kita mereka bermewah-mewahan dengan hari-hari biasa dan hari raya, dilepaskan hari-hari itu dengan penghormatan yang menyeleweng, keberkahan yang dianggap sebagai kebahagian yang sementara. Tidak lain hal itu akan mengantarkan kepada kenistaan dan kesesatan….Sedangkan al-haq (kebenaran) dan huda (petunjuk) itu tetap berada di atas metode Muhammad –shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada umat Islam melalui jalan-Nya, ilham-Nya, petunjuk-Nya dan kekhususan-Nya dengan keutamaan yang tidak terjadi pada umat sebelumnya….perhatikanlah dengan cermat agar kamu dapat melihat umat yang disayangi itu dengan tibanya hari raya itu. Mereka beribadah kepada Allah dengan fitrah sebagaimana umat terdahulu yang beribadah kepada-Nya dengan amalan puasa. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ketika datang ke Madinah beliau mendapatkan para shohabatnya merayakan dua hari raya (‘idul fitri dan ‘idul adha), lalu beliau berkata: “Dahulu kamu mempunyai dua hari raya dimana kamu saat itu bersenda gurau di dalamnya, lalu Allah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik yaitu “idul fitri dan idul adha”. (HR. Abu DAWUD DAN An-Nasai). Dan hari raya ini termasuk salah satu syi’ar dari syi’ar Islam, dimana sebagian manusia meremehkannya bahkan mengadakan peringatan-peringatan yang tidak ada syari’atnya. Maka perhatikanlah orang yang mempersiapkan dirinya untuk memperingati hari ulang tahun (hari kelahiran), hari Ibu dan hari yang selainya. Dia dan anak-anaknya riang gembira dengan datangnya peringatan itu dan bahkan ia mengeluarkan untuk meramaikan dan merayakannya. Akan tetapi jika hari raya Islam tiba tidak ada arti baginya, bahkan mungkin ia berpaling darinya, Allah berkata: “Demikianlah (perintah Allah), barang siapa mengagungkan syi’a-syi’ar Allah, maka itu timbulnya dari ketaqwaan hati.” (Al-Hajj: 32). Sesungguhnya hari raya itu merupakan hari yang penuh kegembiraan bagi orang yang baik dan ikhlas niatnya karena Allah. Bukanlah hari raya itu hanya mengenakan pakaian yang serba baru dan bermegah-megahan dengan perlengkapan-perlengkapan yang banyak serta mewah. Akan tetapi yang dinamakan hari raya itu adalah barang siapa yang takut dengan hari pembalasan dan takut kepada Yang Memiliki ‘Arsy yang Mulia serta bercucuran air mata karena bertaubat dengan berharap (ampunan-Nya) di hari pembalasan nanti. Wahai saudaraku kaum muslimin: berikut ini beberapa petunjuk singkat tentang adab dan hukum hari raya: Pertama: Bersyukur kepada Allah dengan menyempurnakan hari demi hari dalam bulan yang agung ini dan telah menjadikanmu tergolong dari orang-orang yang menjalankan puasa dan sholat lailnya. Perbanyaklah do’a agar Allah menerima puasa dan sholat lail serta mengampuni dari kelalaian dan kesalahanmu. Kedua: Takbir: Disyari’atkan untuk mengumandangkan takbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam lebaran hingga sampai sholat ‘ied, hal ini berdasarkan perkataan Allah ta’ala: “Dan hendaklah kamu mengucapkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, suapaya kamu bersyukur.” (Al-Bakaroh: 185). Yaitu dengan mengucapkan takbir “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar Laa ilaha Illallahu Wallahuakbar Walillahil Hamd” . Disunnahkan bagi laki-laki meninggikan suaranya di masjid, di pasar dan rumah sebagai pengumuman untuk mengagungkan Allah, beribadah dan bersyukur kepada-Nya. Ketiga: Zakat fitri, Rabbmu ‘azza wa jalla’ mensyari’atkan kepadamu untuk mengeluarkan zakat fitri di akhir bulan ini, yang merupakan pembersih bagi bagimu dan pemberian makan kepada orang-orang yang miskin sebanyak satu shaa’ (sekitar 2,4 Kg) baik berupa gandum, korma, keju, kismis, beras atau yang lainnya dari jenis makanan pokok.. diwajibkan atas laki-laki, perempuan, besar, kecil, merdeka atau budak dari kalangan kaum muslimin. Dan sebaik-baik waktu untuk mengeluarkannya adalah sebelum sholat ‘ied dan diperbolehkan mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum ‘ied, dan tidak boleh mengeluarkannya pada setelah sholat ‘ied, sebagaimana tidak boleh juga mengeluakan zakat fitri dengan uang karena hal itu bertentangan dengan perintah Rasul –shollallahu ‘alaihi wa sallam-, namun hendaknya dari jenis makanan. Sebagaimana juga dianjurkan pula untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Ini termasuk dari salah satu bentuk bimbingan anggota keluarga muslim agar anggota rumah tangganya terbiasa mengeluarkan zakat yang diikuti oleh anak-anak kecilnya. Keempat: Mandi, berwangi-wangi bagi laki-laki dan mengenakan pakaian yang paling bagus tetapi tidak berlebih-lebihan, tidak isbal dan tidak memotong jenggot karena hal tersebut adalah haram. Adapun wanita disunnahkan keluar ke tempat sholat ‘ied tanpa bertabarruj dan tanpa memakai wangi-wangian. Janganlah seorang muslim menuju pada ketaatan kepada Allah ia mencampurinya dengan kemaksiatan berupa tabarruj dan berwangi-wangian di hadapan laki-laki (yang bukan mahrom). Kelima: Makan korma dengan jumlah yang ganjil tiga atau lima sebelum berangkat ke tempat sholat ‘ied hal ini berdasarkan perbuatan Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Keenam: Sholat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah. Para ahli ilmu, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lainnya menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa sholat ‘ied itu wajib dan tidak gugur kecuali ada halangan, adapun wanita hendaknya menyaksikan ‘ieed bersama kaum muslimin walaupun mereka haid, bagi yang haid menjauhkan diri untuk tidak sholat. Ketujuh: Ketika pergi dan pulang dari tempat sholat ‘ied hendaknya jalan yang dilewati berlainan. Disunnahkan pergi ke tempat sholat ‘ied dari jalan yang satu dan ketika pulangnya melewati jalan yang lainnya, ini berdasarkan perbuatan Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Kedelapan: Tidak mengapa mengucapkan “Taqabbalallahu minnaa wa minkum” “Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian”. Saudaraku yang aku cintai, kami ingin mengingatkan anda dari beberapa kesalahan yang sering terjadi saat malam dan hari ‘ied berlangsung agar anda dapat terhindar (tidak melakukannya). Dan yang cukup mengherankan adalah sebagian kaum muslimin mengakhiri ibadah ini dengan kemaksiatan dan mengganti dengan istighfar pada akhir setiap ibadah dengan senda guarau dan permainan. Diantara kesalahan-kesalahan itu antara lain: Pertama: Takbir bersama-sama dengan satu suara atau mengulangi setelah bacaan seseorang, sebagai contoh “Allahuakbar” atau mungkin membuat bacaan-bacaa takbir yang tidak ada syari’atnya. Kedua: Meyakini bahwa meramaikan malam ‘ied itu adalah suatu kewajiban, serta menggunakan dalil-dalil yang tidak benar. Ketiga: Mengkhususkan pada hari ‘ied untuk ziarah ke kuburan dan memberi salam kepada penghuni kubur (mayit). Keempat: Ikhtilath (Campur baur antara laki-laki dan perempuan) baik ketika berada di tempat sholat, jalan, atau di tempat hiburan. Kelima: Sebagian orang berkumpul pada hari raya dengan mendengarkan musik, sendau gurau dan bermain dengan permainan yang tidak berguna (catur, kartu dan lain-lainnya). Ini semua tidak boleh. Keenam: Sebagian orang tampak gembira sekali dengan datangnya hari raya ini karena bulan Ramadhan sudah selesai berikut ibadah puasanya. Seakan-akan puasa adalah beban yang berat yang terbebani pada punggungnya. Tentu ini adalah sangat berbahaya. Ketujuh: Berlebih-lebihan dalam berpakaian, maka dan minum sampai melampui batas, Allah berkata: “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas.” (Al-A’rof: 31). Saudaraku yang aku cintai!, janganlah lupa bahwa Rabb (Tuhan) di bulan Ramadhan itu juga Rabb adalah Rabb di bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu lanjutkanlah (terus-menerusnya) ketaatanmu kepada-Nya. Ketahuilah bahwa penghabisan waktu ibadah dan ketaatan itu bukanlah pada saat menjelang ‘ied seperti yang disangka sebagian orang, akan tetapi iin seperti yang dikatakan oleh Allah: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang al-yaqin”. Yang dimaksud al-yaqin dalam ayat tersebut adalah ajal (kematian). Sebagian salaf mengatakan: “Amalan seorang muslim itu tidak berpenghasilan sebelum ajal tiba.” Hasan Al-Bashri berkata: “Suatu kaum enggan untuk mengerjakan suatu ibadah yang berkesinambungan. Demi Allah, tidaklah seorang mu’min itu hanya mengerjakan suatu amalan dalam waktu sebulan, dua bulan atau setahun, dua tahun, akan tetapi demi Allah tidaklah amalan seorang mu’min itu dibatasi dengan waktu terakhir melainkan dengan kematian.” Sementara Umar bin Khaththab disaat beliau memberi pengajaran di hadapan manusia di atas mimbar, dan membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka.” (Fushilat: 30). Lalu beliau berkata: “Demi Allah, mereka itu telah istiqomah dengan ketaatan kepada Allah kemudian mereka tidak tertipu sebagaimana tertipunya musang.” Wahai kaum muslimin, kalau kamu telah meninggalkan bulan yang penuh kebaikan, ketaatan dan ibadah serta pembebasan dari api neraka, maka Allah telah menyediakan untuk kita berbagai macam ketaatan dan ibadah yang lain. Yang mana perbuatan-perbuatan tersebut dapat menggembirakan jiwa dan naluri seorang muslim yaitu amalan-amalan yang disunnahkan dan beraneka ragam bentuknya berlangsung sepanjang tahun, diantaranya: Pertama: Puasa enam hari di bulan syawwal, diriwayatkan oleh Abi Ayyub Al-Anshory bahwa Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- berkata: “Barang siapa puasa Ramadhan kemudian diikutkan dengan puasa enam hari di bulan syawwal maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim). Bila kamu meninggalkan di salah satu hari (dalam bulan Ramadhan) maka qadha (ganti)lah dulu puasamu kemudian berpuasa pada bulan syawal. Kedua: Puasa Ayyamul biidh (puasa di tengah bulan Qomariyah, tanggal: 13, 14, dan 15), dan puasa arofah bagi yang tidak haji dan puasa senin kamis. Ketiga: Sholat tahajjud dan memelihara untuk selalu shalat witir, Allah berkata: “Mereka sedikit tidur di waktu malam”. Keempat: Mengerjakan salah satu shalat rawatib (sebelum atau sesudah) fardhu yaitu 12 raka’at: Empat raka’at sebelum dzuhur, dua raka’at sesudahnya dan dua raka’at sesudah maghrib. Dua raka’at sesudah isya’. Dan dua raka’at sebelum subuh. Kelima: Senantiasa membaca Al-Qur’an setiap hari walaupun hanya satu juz, minimalnya. Keenam: Selalu menjaga amalan-amalana yang baik dan selalu istiqomah, sebagaimana perkataan Allah: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-Mu dan orang-orang yang bertaubat bersamamu.” (Hud: 112). Ketujuh: Tunduklah dan rendahlah dirimu serta berdo’alah kepada Rabbmu agar menghidupkanmu dan mematikanmu dalam keadaan Islam. Dan mohonlah ketetapan di atas kalimat tauhid, diantara do’a Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- adalah: “Wahai Yang Membolak-balikkan hati! Berilah ketetapan pada hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi). Adapun macam-macam keta’atan itu sangatlah banyak dan pahalanya besar. Allah berkata: “Barang siapa mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97). Maka bergegaslah –wahai saudaraku kaum muslimin- untuk senantiasa melaksanakan amalan-amalan yang baik dan berhati-hatilah terhadap kematian yang datang kepadamu secara tiba-tiba sedangkan kamu dalam keadaan sedang berbuat maksiat. Ingatlah bahwa ciri-ciri diterimanya amalan-amalanmu di bulan Ramadhan adalah kamu tetap dan terus menerus dalam keta’atan setelahnya. Kebaikan itu diikuti oleh kebaikan yang lain sedangkan kejelekan akan menarik kejelekkan yang lain pula. Wahai saudaraku, hari raya bukanlah saat-saat untuk bersenda gurau dan kelalaian akan tetapi merupakan saat untuk beribadah dan bersyukur. Seorang mu’min yang sejati senatiasa melaksanakan ibadah yang banyak jenisnya itu. Dan diantara ibadah yang dicintai dan diridhoi Allah adalah silaturrahim, mengunjungi kerabat, meninggalkan sifat saling membenci, sifat saling dengki, belas kasih terhadap orang-orang miskin, anak-anak yatim, menggembirakan hati pada janda dan orang fakir.
Renungkanlah perputaran hari demi hari yang cepat berlalu dan takutlah (kepada Allah) dengan bertaubat dan bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Dan persiapkanlah dirimu –wahai sauadaraku yang aku cintai- dalam ketaatan serta tetaplah untuk beribadah (kepada-Nya), karena dunia ini hanyalah sesaat saja. Dan ketahuilah bahwa hati seorang mu’in itu tidak tenang dan tidak tentram kecuali kalau kedua kakinya sudah memasuki surga. Maka bergegaslah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi serta jauhkanlah dirimu dari api neraka yang menyala-nyala, tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.Ya Allah tetapkanlah kami dalam keimanan, amal sholih dan hidupkanlah kami dalam kehidupan yang baik serta golongkanlah kami dengan orang-orang yang sholih. Ya Rabb kami, terimalah dari kami karena sesungguhnya Kamu adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin. Wakhiri Da’waanaa anil Hamdulillahi Robbil ‘alamiin.
Labels: Bayan
The sciences of hadith, and its importance. What is "sunnah," its importance, its authority in Islam, who were the scholars of hadith, their books, and what is the terminology of hadith. Chain of Command is an AlMaghrib course taught by Abdul-Bary Yahya. This course is divided into two parts: first, the Muhadithoon, the Scholars of Hadith; and second, what is known as "Mustalah al-Hadith," the terminology and categorization of hadith. Hadith sciences can undoubtedly be the most important science in Islam for one reason: all other sciences are based on it. Do you think our worship would be the same if we did not have the classifications of ahadith, from da'eef (weak) to saheeh (authentic)? How about fiqh? Aqeedah? Without the hadith of the Prophet (صلى الله عليه و سلم) and his sunnah we would be completely lost. Rasululllah (صلى الله عليه و سلم) said: "There will not cease to be a group from my ummah dominant upon the truth. The ones who abandon them will not be able to harm them, until the decree of Allah comes." [Saheeh Muslim] What do the scholars say about this group and hadith? Most importantly, there will always be a group among this ummah guided. Also, Imam Ahmad said, "if they are not the people of Hadith, then I don't know who they are." Abdullah ibn Mubarak said, "It is the scholars of Hadith." This does not mean that other scholars are misguided, but if an individual does not believe in or rejects the ahadith, they will eventually go astray. Some benefits of studying hadith: You are able to follow in the footsteps, words and actions of the Messenger of Allah (صلى الله عليه و سلم) You will have the ability to extract rulings from the sunnah of the Prophet (صلى الله عليه و سلم) You will learn lots of Arabic by memorizing ahadith of the Prophet (صلى الله عليه و سلم) Realize the miracle of "Jawaami' al-Kalam," small and concise words, that Allah gave to the Prophet (صلى الله عليه و سلم) You will send lots of salawaat on the Prophet (صلى الله عليه و سلم). [The Prophet (صلى الله عليه و سلم) said: The people who will be nearest to me on the Day of Resurrection will be those who supplicate Allah more often for me.''] Allah (عز و جل) blessed our Ummah with a special gift. It is known as the "isnad," the chain in which a hadith is narrated. The isnad is so important, as it relates to us how this hadith reached us. Abdullah ibn Mubarak said, "The isnad to me is part of the deen (religion), and if it wasn't for the isnad, anyone would say anything he wanted." This course is the best way to become closer to and love the Prophet (صلى الله عليه و سلم), and also cling to his sunnah. Imam Malik said, "The Sunnah is like the Arc of Nuh, whoever boards it will be saved, and whoever stays behind will be drowned."
Labels: Hadith